Jumat, 10 Januari 2014

Kapan Kawin? Kapan Punya Anak? Kapan...Kapan...dan Kapan

Dalam mitologi Yunani, ada suatu saat dimana negeri bernama Thebes, negeri yang didirikan seorang bernama Cadmus, sedang dilanda kengerian yang hebat. Siapapun yang akan masuk negeri itu, harus berhadapan dengan Sphinx (makhluk berbentuk singa bersayap, tapi wajah dan tubuhnya seperti wanita). Sphinx menghalangi siapa saja yang akan masuk dan memberikan sebuah teka-teki, bagi siapa yang menjawab dengan benar maka orang itu akan diberikan jalan untuk masuk Thebes, tapi jika menjawab dengan salah maka orang itu akan dibunuh oleh Sphinx. Sudah banyak tak terkira korban Sphinx.

Suatu saat seorang bernama Oedipus, seorang anak raja yang pergi meninggalkan negerinya, menuju Thebes dan mau tak mau bertemu dengan Sphinx. Teka-teki pun dilontarkan Sphinx, “Makhluk apakah yang berjalan dengan empat kaki di pagi hari, dua kaki di siang hari, dan tiga kaki di sore hari?”. “Manusia”, jawab Oedipus. “ketika bayi dia berjalan merangkak dengan kedua tangan dan kakinya, ketika dewasa dia berjalan dengan kedua kakinya, dan ketika masa tua dia berjalan dengan dua kaki tetapi menggunakan tongkat.” Jawabannya benar, dan monster Sphinx entah kenapa, kemudian membunuh dirinya sendiri. Rakyat Thebes selamat.

Ya, itulah manusia, dia akan berubah. Tak ada manusia yang tak berubah. Dan perubahan yang pasti adalah yang dikatakan Oedipus tadi, kecuali dihentikan kematian. Sama dengan kehidupan kita sehari-hari, seakan lupa bahwa manusia pasti berubah, pertanyaan selalu sama terlontar kepada kita. Saat kita kecil, kita ditanya “cita-citanya apa nak?”, saat menginjak SD, kita ditanya mau SMP mana, begitu pula saat SMP. Ketika sudah menginjak SMA, kita ditanya mau kuliah dimana, sudah kuliah kita ditanya kapan lulus, saat sudah lulus kita ditanya mau bekerja dimana, dan saat sudah bekerja kita ditanya sudah punya pacar atau belum? Kapan menikah?. Sudah menikah, kita ditanya kapan punya anak, sudah punya anak, kita ditanya kapan punya rumah, mobil dan sebagainya. Capek.

Rukayyatu Fatahu Umar, penghafal Al Qur’an dari Nigeria berusia 3 tahun
Cleopatra Stratan, penyanyi Rumania, dibayar per lagu Rp 125 juta di usia 4 tahun
Cameron Johnson, pengusaha yang di usia 12 tahun omsetnya sudah mencapai Rp500 Miliar
Mark Zuckeberg 26 tahun jadi Person of the Year, menciptakan facebook umur 20 tahun,
Alia Sabur meraih Profesor Doktor termuda di dunia umur 22 tahun,
Jason Kidd 10 kali masuk all star NBA, usia 37 tahun baru meraih juara NBA pertamanya,
Bill Gates jadi orang terkaya dunia di usia 41 tahun,
Albert Einstein meraih nobel fisika di usianya yang menginjak 42 tahun,
Taikichiro Mori, orang terkaya versi Forbes tahun 1991 mulai berbisnis di usia 55 tahun,
Colonel Harland Sanders pada usia 65 tahun baru mulai usaha KFC,
Ronald Reagan, salah satu Presiden AS paling terkenal, menjadi presiden usia 70 tahun.

Umur manusia memang terus bertambah tua, tapi sampai dimana dia mencapai kesuksesan religi, finansial, prestise, ataupun tahta tak ada batasannya. Fakta di atas menunjukkan bagaimana orang dengan usia berbeda mampu menghasilkan sesuatu yang sama-sama luar biasanya, tanpa batasan usia. Pertanyaan klise pada kita tak akan muncul kembali menghantui kita, karena kita punya rasa dan cara sendiri meraih kesuksesan apapun dalam hidup kita. Dan rasa pesimis atas keterbatasan usia kita tak akan pernah muncul, karena kita tahu kita masih ada tenggat waktu hingga saat-saat akhir hayat kita.
“Harapan hanya mati dalam kematian, dan harapan selalu hidup dalam kehidupan”

Terus berjuang dan optimis kawan….

Senin, 06 Januari 2014

Masa-masa di Sekolah : Kelulusan Tanpa Coretan

Saya sudah lama gak menulis, yah demi sebuah perubahan, mulai hari ini saya coba menulis sesuatu. 1 hari 1 tulisan. Hal yang paling mudah adalah menulis kisah diri sendiri, dan hal yang paling menarik dari diri sendiri adalah KENANGAN…dan kenangan yang paling menarik adalah kenangan masa SMA.. :D

Ya, memang sangat panjang kisah saat SMA, tapi daripada saya ga mulai-mulai buat menulis, ada baiknya saya menulis soal masa SMA, buat awalan. Nah, kalau saya tulis semua, pasti capek, tulis yang menarik aja dikit lah.

Saya ingat hari itu adalah Pengumuman Kelulusan angkatan kami, 2005. Seminggu yang lalu saya sudah woroworo ke semua ketua kelas dan orang yang saya kenal ataupun ga kenal buat bawa sepeda ontel ke sekolah. Kita akan pawai keliling kota merayakan kelulusan 100% kita. Kalau tidak 100%, pawai batal. Kenapa sepeda? Pemikiran saya sederhana, tidak merusak polusi, hampir semua orang punya, saat itu bensin langka dan sedang naik. Tapi yang paling utama adalah saya hanya ingin SMA kami memberikan contoh kepada SMA lain bahwa kelulusan tak harus dengan coret-coret baju kemudian pawai dengan motor. Hal itu pasti mengganggu keselamatan dan kenyamanan diri sendiri dan orang lain.

Tak terasa hari sudah semakin panas hingga membuat sejuknya udara Kudus saat itu terusik kehadiran matahari jam 9 pagi. Semua sudah di posisi tempat titik kumpul di dalam sekolah (sepeda parkir di dalam sekolah), sekitar kurang lebih 70-an sepeda siap melakukan pawai keliling Kudus. Persiapan pawai ini memang mengalir begitu saja. Kalau boleh dibilang, mantan pengurus OSIS lah yang banyak bergerak mempersiapkan ini.

Setiap ketua kelas saya cek, apakah sudah memastikan sekelas lulus semua atau tidak. Ada 10 kelas yang harus dicek. Dan Alhamdulillah, setelah dicek, kami lulus 100%. Pengecekan ini cukup makan waktu, tapi memang itu yang bisa kita lakukan, guru-guru tidak ada yang mau memberikan info soal ini. Pawai ini rupanya sudah diketahui para guru, dan mereka tidak setuju.

Sekarang semua sudah siap meluncur, tapi tiba-tiba Pembina OSIS SMA kami memanggil mantan ketua OSIS kami dan koordinator pawai ini. Hendrawan, mantan ketua OSIS kami mengajak saya, Amin, dan Saiz untuk menghadapi panggilan itu. Kami dibawa ke ruang BP, disana sudah ada Kasbiyanto, guru yang terkenal killer, mantan Pembina OSIS yang saat itu sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Humas. Diskusi berlangsung alot, saya sudah menjelaskan alasan-alasan kami melakukan pawai ini, mereka tidak terima dan Kasbiyanto sebagai seorang killer mengatakan “Sampai mati pun saya ga akan menyetujui pawai ini”. Alasan keamanan menjadi hal yang membuat mereka tidak menyetujui pawai ini, dan selama sejarah SMA kami, ga pernah ada pawai kelulusan, dan ini akan mencoreng nama baik SMA. Kalau saat itu ada istilah “Lebay”, saya akan mengatakan itu pada Kasbiyanto…hahaha

Merasa gagal melobi saya dan kawan-kawan, kami kemudian dibawa menghadap ke Kepala Sekolah, Drs H Makmun, begitulah nama kepala sekolah kami. Diskusi masih sama dan alasan saya juga masih sama, hasilnya pun sama: kepala sekolah melarang. Saya, Hendrawan, Amin dan Saiz hampir putus asa. Gagal…gagal ini pawai. Tapi saya mulai kesal juga dengan mimik wajah kemenangan Pembina OSIS saya, saya yakin, ini bisa dilawan. Akhirnya saya minta waktu ke Kepala Sekolah untuk bertemu dengan “Pasukan Bersepeda” yang sudah siap berangkat. Saya ajak mereka berkumpul dan saya sampaikan,

“teman-teman, saya dan perwakilan kita dipanggil sama Kepala Sekolah dan Pembina OSIS, kita nggak boleh untuk pawai, alasan keamanan dan nama baik sekolah. Sepanjang sejarah SMA 1 Kudus, belum pernah ada yang pawai setelah kelulusan. Dan mereka takut kalau kita ada apa-apa di jalan kalau bertemu dengan SMA lain. Saya serahkan ke teman-teman baiknya gimana, tapi kalau saya, saya akan tetap berangkat, entah itu dibolehkan atau tidak. Sejarah hanyalah sejarah, justru kita nanti yang akan membuat sejarah sebagai angkatan yang pawai untuk pertama kalinya.”

Tak ada satupun yang menolak usul saya saat itu, mereka siap berangkat, dengan ijin Kepala Sekolah atau tidak. Dan bahkan sebelum saya menghadap kepala sekolah lagi, ada satu teman saya, Fahmi yang sepedanya dilempar bata oleh Kasbiyanto karena dianggap mengejek beliau di lapangan sekolahan.

Kami kembali menghadap kepala sekolah yang didampingi Pembina OSIS, kami sampaikan, diijinkan atau tidak, kami akan tetap berangkat. Drs H Makmun sempat terkejut mendengar keputusan kami, mungkin selama ini, murid-murid terlihat taat di tangannya. Tapi ini beda Bung!! Pembina OSIS dan Kepsek berembug cukup lama. Terlihat wajah Pembina OSIS mulai tersenyum kecut,

“OK, kalian berangkat dengan 1 syarat, kalian harus dikawal polisi, saya yang sediakan polisinya”, Sang Pembina OSIS mulai beranjak pergi dan menelepon kantor polisi.

Saya girang bukan kepalang, sejarah akan terjadi. Kalau mau sedikit bercerita, SMA saya ini tempat sekolah anak dari salah satu orang terkaya se-Kudus, tempat sekolah anak dari orang terpandang se-Kudus, tempat sekolah anak dari Kepala Kejaksaan Kudus, tempat sekolah anak dari pejabat-pejabat di Kudus. Sepatu hitam dan kerapian menjadi ciri khas kami, tidak neko-neko, penuh prestasi, dari nasional, sampai internasional. Jadi bisa bayangkan sendiri begitu prestise nya sekolah ini. Dan pawai adalah hal yang bisa jadi merusak prestise itu.

Pawai dimulai. Rute kami tak terlalu jauh, mungkin sekitar 1 jam bersepeda dengan kecepatan pelan karena beruntutan. Saya sampaikan ke teman-teman untuk berjalan hanya 1 banjar saja, jadi tidak mengganggu perjalanan pengguna jalan lain. Di jalan kami bertemu dengan SMA lain yang pawai menggunakan sepeda motor dengan suar knalpot menggelegar, baju dicoret-coret, tanpa helm. Saya ga bergidik sedikit pun, karena saya yakin mereka ga akan mengganggu kami. Benar, mereka malah mengacungkan jempol kepada kami dan saling sapa. Dan kalau boleh sedikit membuka rahasia, beberapa siswa kami sebenarnya adalah “penjahat”, dan yang pawai sebenarnya juga sedikit banyak mengenal rombongan kami.

Di jalan kami bertemu warga yang menyaksikan kami dengan pakaian rapi bersepeda, komentar yang positif selalu keluar, “apik mas, ngono yo joss”, “ancen bedo mas SMA 1 Kudus karo liyane”, dan lainnya. Ya, kekhawatiran berlebihan dari Kepsek atau Pembina OSIS ga pernah terjadi dan malah terbalikkan. Kami pun kembali ke sekolah dengan tenang, di depan sekolah berjajar bus untuk mengantar adik-adik kelas kami yang bersiap-siap study tour ke Bali. Masih teringat jelas wajah mereka tersenyum sambil bertanya-tanya.

Sebelum aksi massa ini, di tahun 2004, demonstrasi nyaris kami lakukan. Ini karena kelas 3 masih ditarik iuran untuk pembangunan sekolah. Janji sekolah, tahun 2003 adalah tahun terakhir angkatan kami ditarik iuran pembangunan sekolah. Saya sempat mengumpulkan semua ketua kelas 3 dan beberapa orang berpengaruh di SMA kami, kami siapkan rencana demo. Tapi saya salah, rupanya ada satu pengkhianat diantara kami yang melaporkan rencana-rencana kami ke pihak Guru dan Kepala sekolah. Kami semua yang hadir di pertemuan itu dipanggil, dan akhirnya hanya berakhir di forum diskusi "penggunaan dana pembangunan sekolah". Sejak saat itu, orang yang saya percaya di SMA itu hanya 1 orang, saya sendiri.

Terima kasih Pembina OSIS yang menyediakan polisi untuk kami, dan terima kasih juga Pak Polisi yang mengawal kami. Kenangan bersama angkatan kami, pawai kami, kepanasan kami, menjadi headline Radar Kudus Jawa Pos dan terpampang foto kami yang bersepeda dengan tulisan “Bensin Habis”. Sejarah tak pernah berarti tanpa perjuangan dan perlawanan. Ya, Sejarah.

Selasa, 20 Maret 2012

Lepas Tanpa Patah

aku ingin melihatmu…bersanding di pelaminan dengan lelaki yang bukan aku,  yang tidak kukenal wajahnya  hingga hari itu. Hari dimana kau menjadi bagian dari iman laki-laki itu. Bahagia karena cita dan cinta.

Aku ingin hadir di hari itu, ijab kabulmu, menjadi saksi matamu...walimahanmu. Aku ingin melihatmu…bergandeng tangan dengan suamimu, lelaki yang bukan aku, yang dengan cintanya memboncengmu berdua dalam siluet fajar senja itu.
aku ingin melihatmu…bercanda dengan anak-anakmu, dari suamimu yang bukan aku, meski mereka manis dan lucu-lucu,cukup dengan itu. Aku ingin melihatmu…di masa tuamu, dengan keluargamu dan kebahagiaanmu itu. Aku ingin melihatmu... agar bisa kujaga hatiku untuk isteriku.

Seuntaian sajak karya PKJ terngiang tepat di benakku. Membawaku mengarungi dunia mantan mimpiku. Tepat di hari ini, dimana angin dirasa akan menghujam benda mati di hadapanku. Aku tak biasa menulis seperti ini, tapi tanganku tak kuasa untuk berhenti. Aku tak biasa sakit seperti ini, tapi jariku gemetar memaksa lari. Aku tak biasa marah sendiri menangisi diri, tapi lenganku menolak tuk sembunyi.

Siang terik, mataku sedikit menitik, dan anganku menggelitik. Kutuliskan dengan penuh kesadaran apa yang lama kuperjuangkan, kemudian kukirimkan padamu berita entah suka entah duka itu. Mataku gelap, meskipun di luar sana mentari gemerlap. Siapa bilang aku bertahan? Siapa bilang aku sekuat karang? Siapa bilang aku tak lekang dalam hutan? Nanti, aku akan seperti yang kau harapkan..Nanti...

Saat ini, detik-detik ini ada serupa air kehancuran menuai kerinduan. Saat ini, langkah lunglai ini ada serasa api kekejaman menguntai kejiwaan. Dan cukup saat ini kumulai mencengkeram lepas semua pikirku tentangmu. Entah apa cukup saat ini, kubawa serangkaian mawar hitam dalam gundukan nisan mantan mimpiku dan mimpimu...

Pernah ku berharap asapmu memenuhi ruangan gelapku, hingga membuatku mampu melihat guratan-guratan. Pernah pula ku tahu, kau berharap airku memenuhi danau rindumu, hingga membuatmu mampu melihat gemerlap. Tapi aku tak pernah berharap meninggalkanmu tanpa patah hati, seperti bidak kecil meninggalkan rajanya. Dan kupun tahu kau tak pernah berharap meninggalkanku tanpa sakit hati, seperti sang panah meninggalkan busurnya. Dan kini akulah gladiator dalam colloseum kehidupan.

Sudahlah..aku lupa tentang membuatmu diam. Sudahlah...aku lupa tentang membuatmu menangis. Sudahlah...aku lupa tentang membuatmu tersenyum. Sudahlah...aku lupa tentang membuatmu terbahak lepas. Sudahlah...aku lupa.....sudahlah...aku....sudahlah....su...dah....lah....

Rabu, 07 Maret 2012

Mer

Gundah mendung lukiskan muram
Usik permainan hati dua anak dewasa tak remaja
Niatkan sucinya ikrar...
Ancangkan cantiknya bersatu jasad...

Wanitaku menangis sendu dalam dekap pasrah
Aku bernyanyi pilu dalam pelukan ego
Nyala harapan perlahan menyurut
Kubutuh api tuk terangi, kubutuh nafas tuk berlari

Untuk separuh hidupmu kurelakan hati terpenggal
Riangkan seluruh wajahmu kurelakan jiwa terjagal
Namun semua terhalang nestapa...

Ijinkanku titipkan rasa yang pernah merekah
Ajarkanku remukkan lukisan rasa dalam kanvas

Senyumku senyummu pahit mengembang di nadi
Anganku pun bersujud
Tanganmu pun bersimpuh
Riakku riakmu kejam tertelan di dada
Ini bukan inginku dan inginmu Mer..

Aku kamu tak bisa tak kuat
Dan ingin kuhentikan semua
Ingin....

Kamis, 01 Desember 2011

Revolusi Tanpa Poligami

Malaise, begitulah istilah lain dari depresi ekonomi yang besar pada tahun 1930-an. Banyak perusahaan yang kolaps dan bangkrut karena saat itu kemampuan beli masyarakat dunia sangat kecil, sementara barang produksi sangat banyak. Tak terkecuali perusahaan Matsushita Electric (cikal bakal Panasonic) milik Konosuke Matshushita. Banyak sekali perusahaan yang kemudian mengurangi jumlah tenaga kerja mereka guna menekan biaya gaji. Tapi Matsushita berbeda, dia tidak mungkin tega memecat karyawannya yang masih punya keluarga dalam kondisi perekonomian seperti itu. Semua karyawan ia anggap sebagai keluarganya sendiri.

Matsushita kemudian berfikir untuk memberdayakan karyawannya yang semula menjadi buruh, diangkat menjadi bagian penjualan. Dia memangkas produksi, meskipun begitu, persediaan barang dagang masih banyak karena lemahnya daya beli masyarakat. Manajer perusahaan meminta Matshushita segera mem-PHK karyawan untuk menekan kerugian ini. Matshushita tak bergeming, akhirnya dia memotong setengah jam kerja, tapi tetap membayar penuh upah karyawannya. Ia juga meminta pekerja untuk membantu menjual jaminan simpanan saham. Akhirnya Matshushita pun berhasil mempertahankan perusahaannya. Kebijakan itulah yang pada akhirnya secara tidak langsung mampu menyelematkannya nyawanya dari penjajahan Sekutu.

Keberhasilan Matshushita tak akan diraih jika dia tidak punya seorang istri dan 3 asisten yang selalu mendampinginya sejak sama-sama membuat perangkat lampu pada tahun 1917. Matshushita hanya lulusan pendidikan menengah dan tak punya pengalaman berbisnis. Sadar akan hal itu, Matshushita butuh usaha keras dan semangat tinggi. Saat itu mereka bekerja berjam-jam dan tak pernah ada libur sebelum menemukan perangkat lampu yang inovatif.

Panasonic tak akan pernah kita tahu jika Matshuhita tak pernah bertemu istri dan tiga asistennya. Begitu juga Steve Jobs tak akan pernah kita kenal jika dia tak bertemu seorang luar biasa seperti Wozniak, yang sama-sama mendirikan perusahaan Apple dari sebuah ruang kerja kecil. Dan Bill Gates tak akan pernah menjadi manusia terkaya di dunia dalam jangka waktu lama bila dia tak pernah kenal Paul Allen. 

Kecakapan seseorang dalam membangun revolusi, melaksanakannya dan memimpinnya menuju kemenangan, tak dapat diciptakan dengan otaknya sendiri. Revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup. Begitulah yang disampaikan Tan Malaka dalam bukunya “Aksi Massa” (1926). Kesadaran akan butuhnya kekuatan bersama seperti Tan Malaka juga tercermin dalam kitab suci Kaum Nazi, “Mein Kampf” (1925). Di tulisannya, Adolf Hitler mengungkapkan alasannya memilih menjadi Kepala Divisi Propaganda Partai Buruh di tahun 1921. Hitler yakin bahwa perubahan yang akan dilakukannya hanya dapat dilakukan apabila mempunyai basis massa yang kuat.

Jika kita mempunyai tujuan yang besar dan yakin kita mampu mendapatkannya sendirian, yakinlah bahwa tujuan itu tak akan tercapai maksimal. Tujuan besar dicapai dengan kombinasi yang cantik, dan kombinasi dapat tercapai minimal dengan adanya 2 orang. Jadi, ketika Anda berfikir Anda akan membuat tujuan yang besar dan luar biasa, pastikan Anda punya rekan untuk itu semua. Rekan yang paling tepat dan akan selalu ada bersama Anda, begitu pun Anda akan selalu bersama dia. Ya… Anda boleh memanggilnya “istriku” atau “suamiku”.

Senin, 07 November 2011

2 Jam Lagi

Kurang lebih 2 jam lagi dari terbitnya tulisan ini, Aula DJKN lantai 5 akan menjadi saksi sesenggukan tangis manusia, rintihan pedih hati kegagalan harapan, senyuman pahit jatuhnya asa, ataupun tawa riang di lubuk hati terdalam serasa meraih kemenangan hakiki. Ya, ratusan CPNS DJKN 2010 akan membuka lembaran baru dalam kehidupannya. Hari ini 8 November 2011. Entah kebetulan atau tidak, tepat sekali 11 bulan yang lalu bertanggal 8 Desember 2010, peristiwa itu sudah pernah saya lalui. PENEMPATAN, begitulah kami menyebut tragedi itu.

Sebelum hari bersejarah bagi 55 orang CPNS DJKN 2009 itu, saya mencoba memberikan bahan-bahan pertimbangan pada decision maker tempat kami berlabuh. 2 kali polling permintaan ataupun keinginan kami, dialog face to face dengan salah satu yang berpengaruh terhadap keputusan akhir, memberikan database yang tepat dan akurat, sampai alasan-alasan yang normal maupun abnormal sudah diungkapkan ke bagian yang mengurus nasib kami. IP, asal kota, spesialisasi, hasil kinerja saat magang, usia, jenis kelamin, dan masih banyak lagi lainnya sudah tertulis lengkap di CV maupun database kami pun menjadi sogokan pertimbangan. Saya terus berharap bahwa permintaan adalah awal pertimbangan dan selanjutnya diversuskan dengan kinerja dan kemudian yang lain. Yang pada akhirnya saya sadar, semua itu bisa tak berguna hanya dengan 1 kata pemegang hak veto, “Ganti”.

Tentu saja di sini saya tidak akan mempermasalahkan bagaimana seorang yang berasal dari Medan ditempatkan di Jayapura, ataupun menyoalkan bagaimana seorang ber-IP cumlaude nan berwajah ganteng (siapa tahu ini jadi pertimbangan penempatan...hehe) yang berkinerja baik saat magang dan tak pernah tersentuh pelanggaran disiplin kecil sekalipun bisa ditempatkan di tempat yang jauh dari keinginannya. Saya juga tidak akan mempertanyakan bagaimana orang yang meminta tempat yang tak diinginkan 90% orang, malah ditempatkan di tempat yang diinginkan 90% orang. Saya juga akan melupakan bagaimana seorang yang ber-IP kecil ditempatkan di tempat dia tak pernah magang dan diinginkan banyak orang. Dan saya pun tak akan mengirikan seorang yang jelas-jelas tertulis ditempatkan di sebuah kota, tapi sampai detik ini tak pernah berada di kota itu. Tapi saya bukan pelupa . Saya masih ingat janji, terutama janji mengenai kata “PERBAIKAN”.

Kalau mungkin nanti Menteri, Dirjen, Direktur, atau pejabat kepegawaian mengatakan, “Kami akan melakukan perbaikan sistim kepegawaian”, “Di mana saja itu sama, tergantung kita”, “Di daerah, kalian akan lebih banyak belajar soal-soal teknis”, “Ini bukanlah akhir segalanya, tapi hanya merupakan awal”, saya pasti akan tertawa sekencang-kencangnya sampai pingsan saking mualnya. Seandainya itu tidak melanggar norma kesopanan, seandainya itu tidak melanggar etika profesi, dan seandainya orang tua saya memperbolehkan saya tidak menghargai orang lain, seandainya agama saya mengijinkan untuk saya menghina seseorang dengan cara yang buruk, saya akan melakukannya.

“Hope for the best, prepare for the worst” dan “dimanapun kita ditempatkan, anggaplah kita akan berada di situ selama-lamanya” akan sering kita dengar menjelang saat-saat seperti itu. Kita bekerja di lingkungan yang seharusnya membuat semua pegawai merasa nyaman dan puas. Ketidakpuasan akan membawa pada ketidaklurusan. Karena yang membayar literan keringat kita adalah bergalon-galon keringat rakyat yang mau menyerahkan sebagian kecil hasil kerja kerasnya (atau mungkin sebagian besar.hehe). Kalau CPNS DJKN 2010 berharap semua harapan sesuai kenyataan, tolong lupakanlah mimpi itu,bangunlah pagi, dan lihatlah sinar matahari. Malam memang terasa gelap, tapi ingatlah, esok matahari akan bersinar kembali. Karena tempat Anda menggantungkan mimpi tak pernah peduli arti mimpi Anda.

Akhirnya saya sepertinya harus sok bijak dan sok berpesan kepada para galauers ini. Kalau Anda berfikir saat ini keadilan masih berlaku dalam penempatan, lebih baik “bunuh”lah saya sekarang juga. Kalau Anda kemudian menyerah pada langkah pertama Anda, lebih baik mundur dari sekarang. Kalau Anda berhasil ditempatkan sesuai keinginan Anda, yakinlah bahwa tak semua yang Anda rasakan sekarang akan Anda rasakan seterusnya. Kalau Anda tak puas dengan hasil yang ada di atas kertas, berusahalah untuk menjadi montir kerajaan, karena Anda sedang berada dalam kerajaan tanpa montir. Yang terakhir, kalau ada yang ke Papua dan boleh untuk ditukar dengan tempat saya sekarang berdiri, saya siap setiap saat!!



Kamis, 03 November 2011

The Journey of Love

The Way of Love

Tendangan Berarah Langit

Little Ampera

Amperapung

Perahu Keras

From Watervang with Love



Minggu, 30 Oktober 2011

Will You Marry Me?

Gerimis...maukah kau berhenti bergemericik tuk bantuku?
Ulirkan tetesan kerinduan di hatinya yang terdalam
Nafikan kesedihan di matanya yang bermuram
Agar seluruh batinku sejenak diam...kemudian lirih berujar
Will You Marry Me?
And take into your heart
Now and forever...

Kupu-kupu...maukah kau berhenti menari tuk usirku?
Usirku dari rasa ragu bahwa dialah rusukku
Rusuk yang buatku tegar tak terkapar
Namun kuingin kau menari lagi, kupu-kupuku...
Isyaratkan tarian harapan tuk membawanya ke jantungku
Alirkan racun bahagia tuk luluhkannya ke asmaraku

Sang Penakluk amarahku...
Asaku terjaga sedalam keyakinan ikrar jiwa
Takkan kubiarkan pundakku terbuai selain lembutmu
Ruang fikirku slalu bermandikan nafas kasihmu
Ingin kuteriakkan..
Aku memang bukan lelaki termegah...tapi kupunya warna
Dan akupun bukan manusia terindah...tapi kupunya asa
Istriku...hanya itu yang ingin kupanggil mengganti namamu


inspired by Inesz

Rabu, 19 Oktober 2011

Kerajaan Sugih Nagari (1) : Raja bukanlah Rajaku

Di gugusan pulau di belahan dunia selatan, lahirlah sebuah kerajaan baru bernama Kerajaan Sugih Nagari. Dengan jutaan rakyat, Sugih Nagari punya lebih dari 3.000 pengabdi kerajaan. Dulu memang kerajaan ini tak bernama Sugih Nagari, tapi atas kehendak penguasan Langit Hijau Dewi Myan Lui, kerajaan ini didirikan dan ditunjuklah seorang raja bernama Raja Yonta. Kenyataan bahwa Raja Yonta pernah digodog di sebuah tempat mencari ilmu dunia yang tersohor di dunia bernama Darvhar, Planet Amey Rica.

Kerajaan Sugih Nagari memiliki daerah kekuasaan hingga 10.000 pulau. Istana Raja sendiri berada di Pulau Zawa. Luasnya kekuasaan Sugih Nagari bisa terlihat dari lama perjalanan dari pulau terbarat sampai paling timur yang memakan perjalanan lebih dari 7 hari menggunakan kapal laut, atau bisa ditempuh 8 jam menggunakan Durga (sebuah besi yang mampu terbang dengan kecepatan tinggi). Seperti Planet Amey Rica, Raja Yonta membagi kerajaannya menjadi 17 kerajaan kecil yang disebut Nagari.

Di Istana Raja, 10 Patih siap membantu Raja Yonta melayani rakyat. Dan apabila sewaktu-waktu Raja Yonta dipanggil Dewi Myan Lui, 10 patih ini berperan besar untuk menyiapkan segala sesuatunya.

Meskipun sudah lebih dari 60 purnama, tapi banyak abdi kerajaan yang mengeluhkan kepemimpinan Raja Yonta. Raja Yonta pernah marah besar, hanya karena teman berburunya, yang merupakan abdi kerajaan, dipindahkan ke luar Pulau Zawa untuk membantu Nagari. Padahal abdi kerajaan di Sugih Nagari memang harus selalu berotasi tak hanya Pulau Zawa demi sebuah keadilan dan kesehatan sistim Sumber Daya Manusia.

Raja Yonta memang sangat menyukai berburu, maka dua minggu sekali Raja Yonta selalu menyempatkan berburu di pagi hari. Tapi ada yang mengganjal dengan kesukaannya itu. Ketika berburu, Raja Yonta tak pernah mau kalah. Salah satu abdi kerajaan yang punya kemampuan berburu di atas rata-rata diwajibkan kalah kalau melawan Raja Yonta. Karena Raja Yonta punya kekuasaan semacam hak veto untuk memindahkan abdi kerajaan ke pulau-pulau terpencil, para abdi kerajaan pun terpaksa harus mengikuti kemauan Raja, “harus kalah ketika lomba berburu dengan Raja”.

Pernah juga suatu ketika Raja Yonta dan permaisuri sedang menunggang kereta emasnya, tiba-tiba ada kuda yang menyalip kereta emasnya dalam posisi hampir nyrempet. Sang Permaisuri tiba-tiba berkata, “Suamiku, andaikan itu abdi kerajaan Sugih Nagari, pecat saja dia, mengganggu jalan kita saja!”. Sang Raja pun hanya tersenyum dan mengangguk-angguk setuju.

Raja Yonta tak tinggal di istana, dia tinggal di perkampungan Sang Permaisuri. Setiap pagi, Raja berangkat sebelum matahari benar-benar terbit sehingga bisa sampai di Istana saat abdi negara juga sudah berada di Istana. Dari perkampungan Sang Permaisuri ke Istana, Raja Yonta harus melewati jalan yang diharuskan membayar sekeping perak setiap kali lewat, yang digunakan membangun jalan yang lebih luas untuk rakyat. Tapi bukan namanya Raja Yonta kalau tak menonjolkan kedudukannya. Raja Yonta tak pernah mau membayar, dan malah meminta kebebasan untuk melewati jalan tersebut, karena dia adalah Raja.

Kecerdasan Raja dalam mengatasi masalah perselisihan antar kerajaan dan memberikan petunjuk untuk kebaikan Langit Hijau memang diakui Dewi Myan Lui sangat luar biasa. Tapi kalau tidak merubah perangainya, Raja Yonta tak akan dicintai abdi kerajaan maupun rakyat biasa. Abdi kerajaan dan rakyat membutuhkan raja yang sederhana tapi cerdas, bukan yang ekslusif dan bermental feodal. Sudah banyak yang mengeluhkan hal ini, baik abdi kerajaan maupun rakyat sendiri. Tapi kekuasaan Raja Yonta yang secara semu adalah tak terbatas, membuat para abdi kerajaan hanya bisa nrimo sambil berdo’a, semoga Dewi Myan Lui cepat mengganti Raja Yonta, atau Raja Yonta sakit-sakitan dan tak bisa melanjutkan memimpin kerajaan, atau yang paling ekstrim, semoga Raja Yonta segera dipertemukan dengan penciptaNya agar segera diingatkan akan sikap-sikapnya.

Minggu, 02 Oktober 2011

Art of LEKRA

Jangan!


Lukisan Bergitar

Bukit Tak Bertuan

Mati Kau Tirani!


Ketika Kanvas dan Pahat Bersatu


Patriotisme vs Imperialisme -HT-

Menjual Bayangan

Kamis, 07 April 2011

Dua Detik Lagi

Galau mata, gemas hati, gelisah telinga tersekat besi
Usia ubanku hanya berbatas ufuk matahari
Nista negeri dipanggulkan tepat di pundakku
Anjing berpeluh angin makam dilepaskan untukku
Walau kutahu aku hanya sampah gravitasi hukum
Aku tetap santun dan berkaca menyambut gelapku
Nafasku tak terengal seolah tepat peluru di jantungku

Kakiku beku...
Ubanku menipu...
Rajutan jubah putih tersenyum menyambut gelepar
Nyanyian air mata hanya sekejap menatap
Ia kemudian mati...tapi masih berhati
Ambang hidupku... hidupmu.. hidup kita

Sudahlah mawar biruku...
Api kebenaran tlah tersiram air kemunafikan
Tinta mahal tiket surga terhapus darah fana
Risauku untuk negeriku
Ikatku untuk setan negeriku
Ahhhhh...
Dua detik lagi...
Inginku bertemu surga...












Puisi tentang seorang pria yang akan dihukum mati. Di depan istri dan seorang ulama dia masih bisa tersenyum, tapi istrinya pingsan tak kuasa melihat suaminya ditembak mati. Pria ini adalah pejuang HAM dan dia dihukum mati karena diduga membocorkan rahasia negara padahal dia tak pernah melakukannya.
 –Inspired by Green, green Grass of Home (lagu Tom Jones tahun 1966)-

Senin, 31 Januari 2011

Genk Cinta, Cinta Genk -- Scene 2



Genk “Hitam”, kami sempat menyebut nama genk itu sekali. Selanjutnya, kami sering menyebut genk kami dengan sebutan “kene” (dalam bahasa Jawa artinya ‘kita’). Personelnya secara lengkap sulit untuk kami definisikan, tapi yang merupakan anggota yang selalu ada adalah 4 orang, yang lain boleh dikatakan sebagai kumpulan kami tapi masih timbul tenggelam. 2 tahun kami sekelas, bahkan Fahmi, saya dan Handoko adalah absen berurutan. Personil satunya lagi adalah Kukuh.

Sejak masuk SMA kelas 1, hari pertama MOS, Fahmi dan Handoko sudah dicap “biang kerok” oleh kakak kelas pendamping kelas kami, kelas 1-6. Saya dan Kukuh masih terlihat polos, bahkan saat itu saya dipilih dengan cara voting untuk jadi ketua kelas dan Kukuh jadi sekretarisnya. Waktu berjalan dan keanehan terus bermunculan. Tiga bulan pertama, Fahmi sudah ditonjok kelas 3 tanpa alasan jelas, Handoko sudah dicap “penjahat” karena memalak dan menantang orang adalah makanan sehari-harinya, Kukuh membawa anak SMA lain masuk ke sekolah, dan saya, cukuplah bermasalah dengan satu kelas anak kelas 2. Selanjutnya sudah menjadi hal yang wajar kalau kami bermasalah, dari akan membunuh orang, skorsing tidak boleh ikut matematika selama 1 bulan, menenggak minuman, menempel semua dinding belakang kelas dengan Koran, main kartu di belakang saat guru mengajar, hingga cabut sekolah setelah jam pelajaran ke 3, menjadi agenda buruk personil maupun kelompok.

Sekarang semua tinggallah cerita lalu yang lucu. Sosok Handoko, seorang katolik taat yang juga seorang yatim, sekarang lebih dewasa (bukan karena dia kelahiran 1984 lho). Sebagai pegawai Djarum, Handoko yang terbiasa hidup keras, mampu bertahan dan menjadi pegawai yang rajin dan toleran. Usaha sampingan banyak dijalaninya untuk menghidupi keluarganya. Minuman keras ditinggalkannya, memalak dilupakannya dan perkelahian adalah kekanak-kanakan baginya. Masih banyak sisa kegilaannya, tapi Handoko sekarang adalah orang yang mengerti arti hidup karena diajari oleh hidup.
Fahmi sekarang telah menjadi pegawai anak perusahaan Pertamina di Cepu yang gajinya melebihi lulusan D3 STAN yang masih “hijau”. Fahmi adalah lulusan D3 Teknik Kimia Undip, ayahnya sudah meninggal dan punya tubuh gempal. Fahmi adalah teman prinsip saya saat teman yang lain mau melakukan hal yang nyata haram, Fahmi dan Saya selalu memohon maaf kepada teman yang lain untuk “hanya” menemani, sebagai solidaritas kami.

Kukuh, keponakan seorang Wakapolda, sejak SMA sudah menggemborkan masuk Akademi Kepolisian, karena memang tubuhnya yang tinggi (184 cm), jadi saat SMA hanya menjadi tempat mainan untuknya. Ternyata tahun pertama gagal dan dia dijanjikan tahun kedua pasti masuk Akpol. Tapi ternyata tahun kedua gagal juga, padahal kuliahnya di D3 Teknik Mesin Undip sudah diabaikannya dengan meninggalkan IP Nasakom (Nilai Satu Koma). Kekasihnya kemudian meninggalkannya, dan setahun yang lalu dia menjadi Supir serabutan maupun kenek Truk. Secara ekonomi, Kukuh adalah yang paling berada di antara kami, tapi dia mencoba melakukan yang dia bisa agar tidak menganggur di rumah. Motivasinya kemudian meningkat setelah tahu bagaimana susahnya mencari uang. Kukuh kini sedang menjalani pendidikan kedokteran di semester 2. “Tak ada kata terlambat untuk memulai”, itulah kata terakhir yang sempat dia ucapkan sebelum kemarin terakhir kami bertemu mengenang masa lalu “Genk Hitam”.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada personil genk ini bagi saya sangat mencengangkan. Entah motivasi apa yang ada, tetapi semua orang yang saat SMA pernah mengenal kami dan selalu berkata “Mau jadi apa kalian nanti kalau begitu terus?”, sekarang tercengang dan berkata “Hidup adalah Roda”.

Tak selamanya keburukan berakhir dengan keburukan, karena keburukan hanyalah konstanta, dan kebaikan adalah hasilnya, tergantung seberapa besar variabel yang mempengaruhi hasil mampu lebih tinggi dari konstanta.

Rabu, 26 Januari 2011

Genk Cinta, Cinta Genk --- Scene 1

Yesterday is History, Tomorrow is Mistery (kata ini pertama kali saya baca di buku pembukaan profil Angkatan Laut Republik Indonesia tahun 2005). Ya, seberapapun jeleknya seseorang, kesempatan untuk berubah selalu ada dan berada di sampingnya mengikuti kejelekannya.



Waktu SMA, saya bergabung secara alamiah dengan 4 genk (yang saya ingat). Genk 1 adalah Genk Hura-hura, anggotanya adalah orang-orang yang punya visi petualang, ada 9 orang anggota tetap, 5 putra, 4 putri. Genk ini khusus mendedikasikan waktunya untuk jalan-jalan dan liburan ke tempat berbeda tiap ada kesempatan. Sampai sekarang pun setiap tahun masiih menjalankan ritual pasca lebaran, mengunjungi tempat yang berbeda-beda di kota yang berbeda. pernah ke Purwodadi naik mobil VW Combi, mantap. Tapi yang paling menyebalkan dari perjalanan yang pernah kami lakukan adalah ketika mencari ikan bakar di Pantai Kartini Jepara ternyata sampai berjam-jam tidak ketemu yang pas, akhirnya kami pulang ke Kudus dan makan di Pasar Kliwon, yang jarak tempuhnya cuma 50 detik jalan kaki dari rumah saya...

Genk 2 adalah Genk OSIS, orang-orang menyebutnya seperti itu. 16 orang pengurus inti OSIS berkumpul hampir setiap hari selama 1 tahun, dan “feel” itu masih terbawa sampai sekarang dan bahkan kami sempat punya permainan “mengejar matasapi”, kami yang cowok bersembilan orang lomba lari memutari letter U lantai 2 SMA kami dengan suasana kompetisi yang hangat. Majemuknya tipe 9 putra didampingi 7 putri ini membuat saya lebih tahu arti perbedaan dan melatih musyawarah mufakat, karena keputusan yang kita ambil tidak pernah berasal dari voting. Teman-teman saya sering menyebut saya "pembangkang" karena hampir selalu berbeda pendapat dengan pembina OSIS yang menurut saya (menurut teman-teman juga begitu) kontroversial. Mungkin bedanya, teman saya mampu menyimpan hingga terus ditahan, kalau saya, saya serang langsung.

Genk 3 adalah genk Pramuka, Jodhipati-Candrasari tepatnya. Saat saya SMA, pramuka bukan ekstrakurikuler  wajib. Meskipun ambalan kami selalu ditawari pihak sekolah untuk menjadi ekstrakurikuler wajib, tapi kami menolak. Kami lebih senang punya 10 ekor singa daripada 1000 ekor kambing. Kekuatan kekeluargaan kami (alumni, dewan ambalan, maupun anggotanya) sangat kuat. Ada salah satu dari 19 prinsip yang kami pegang yaitu “Kita berambalan untuk bersatu, bersaudara, dan berkarya”. Di sini pramuka adalah “STPDN mini”, kami dilatih fisik dan mental dengan cara-cara yang boleh dibilang ekstrim dan radikal. Tapi itu semua membuat kami menjadi lebih “ganas”. Kegiatan ambalan kami dipisah antara Jodhi (putra) dan Candra (putri) meskipun beberapa hal  disatukan. Kami diposisikan Candra adalah adik Jodhi, yang membuat Jodhi harus mengawal pulang Candra kalau sampai lebih dari jam 7 malem. 16 Jodhipati dan 13 Candrasari, itulah skuad kami.

Genk keempat mungkin bisa dibilang bener2 genk dalam arti sempit. Kata “genk” sering diartikan negatif oleh banyak orang, terkesan serem, suka hura-hura, suka cari masalah, berantem, kumpul-kumpul nggak jelas atau yang lain yang lebih parah. Genk “Hitam”, dulu kami menyebutnya begitu, tapi hanya kami yang tahu nama itu, setelah itu, tak ada nama untuk genk ini. Kami lebih sering menyebut dengan “kene” (bahasa jawa: artinya “kita”). Sempat tempur dengan tingkat 3 saat kami tingkat 1, ini membuat nama kami ‘ditakuti’. Kelas 2 lagi-lagi tempur dengan tingkat 3, dan ketika tingkat 3 kami berprinsip “jangan ganggu macan yang sedang tidur”, selama mereka tidak membangunkan kami, kami tak akan menggigit. Saya masih ingat benar ketika tingkat 2 kami hampir menghilangkan nyawa orang hanya karena sebab yang lucu, olahraga. Penyebab utamanya bukan karena olahraganya, tapi karena pihak “lawan” mencoba mengeroyok salah satu anggota kami. Pemikiran pendek dan instan, menggunakan kekuatan fisik untuk meraih tujuan, mengedepankan teman di atas yang lain, menghormati yang berbeda agama, hilangnya rasa takut saat bermaksiat, dan banyak hal lain yang menjadikan saya juga belajar sangat banyak dari sini. Sekarang, justru genk inilah yang sangat luar biasa. Luar biasa…luar biasa…luar biasa…. (akan diceritakan khusus)

Kamis, 20 Januari 2011

Anjing Kencing di Kepala Majikan

Tanggal 18 Agustus 1996 di sebuah koran harian terbit sebuah berita yang saat bulan pertama terasa “biasa saja”. Artikel trilogi Dark Alliance yang bercerita tentang obat bius dalam dunia kulit hitam Amerika Serikat muncul dalam dua edisi, internet dan edisi cetak secara bersamaan. Dan itu menjadi koran pertama yang muncul di dua sarana media yang berbeda. Gary Webb, Sang Penulis yang berprofesi sebagai reporter investigatif menjadi sangat tenar setelah 1,3 juta pengunjung dalam mediaWorld Wide Web (www)-nya terus menyapanya di e-mail. Kejutan dari artikel ini adalah terlibatnya orang-orang dalam CIA dan mafia Nikaragua dalam pengedaran obat bius di kawasan kumuh maupun elit orang kulit hitam. Ya, konspirasi akan selalu berujung kontroversi. 


Kontan berita itu menggegerkan dunia, demonstrasi kulit hitam terjadi dimana-mana, jurnalis-jurnalis ternama menganalisis sisi investigasi dan subyektivitas artikel ini, tetapi Gary tetap berpegang teguh bahwa ada Mesin Mighty Wurlitzer (penyimpangan informasi oleh agen intelejen dan manipulasi sistemik dan rahasia dalam info eksternal). Kurang lebih mirip kasus “Gurita Cikeas” tapi kali ini bersifat internasional dan masalah utamanya adalah kelebihan dunia maya dalam media informasi.


Kejutan-kejutan dalam media seperti itu adalah biasa dan sejak dulu telah terjadi. Gary memang seorang independen, tanpa harus ditedengalang-alangi sebuah kepentingan yang membelenggunya. Tapi apabila sebuah media “wajib” ditunggangi kepentingan, itulah yang menjadi masalah pertarungan idealisme jurnalistik dan loyalitas. TVRI dan RRI tentu akan “kesulitan” berdiri tegak jika ada faktor kepentingan. Sebagai media milik pemerintah, pemberitaan dan kebutuhan tentu dikendalikan. Rupanya keinginan Tantowi Yahya untuk mengangkat TVRI dan RRI sebagai “publik yang privat” sulit terwujud. Dengan embel-embel “pemerintah”, TVRI dan RRI tak mungkin bersikap abu-abu. Tak mungkin mobil jalan tanpa bensin meskipun punya sopir.

Saat sebuah media yang wajib diboncengi kemudian meninggalkan Sang Pembonceng sendirian, maka Sang Media wajib melepaskan dirinya dari ketergantungannya dengan Sang Pembonceng dan bersikap independen. Kita tentu masih ingat tentang kisah sebuah kapal besar yang membagi menjadi 3 kelas dalam perjalanan panjang. Kelas Eksekutif, Medium dan Ekonomi. Eksekutif di tempat paling atas dengan kemewahannya dan serba lengkap, medium di bawahnya, dan ekonomi di paling bawah dengan keterbatasannya. Di tengah perjalanan, kelas ekonomi mengalami kehabisan persedian air bersih. Akhirnya dibuatlah lubang kecil di kapal untuk mengambil air dari laut, kelas eksekutif yang tahu berita itu tak peduli dan berpikir “ah..tidak apa-apa cuma lubang kecil”. Tapi karena kelas ekonomi penumpangnya banyak, maka tak cukup satu lubang. Akhirnya tiap orang mencoba membuat lubang sendiri dan kapal akhirnya tenggelam. Sebuah gejolak kecil di tingkatan terbawah ditambah dengan tindakan tingkatan atas tidak peduli akan membawa kekaraman yang menyeramkan.
       Pertarungan idealisme jurnalis dan loyalitas itu harus dihilangkan dengan sebuah ketetapan hati akan sebuah pilihan. Kalau memang harus abu-abu, beritakanlah kepada pembaca untuk “Percaya boleh, Gak Percaya Monggo” dan bersiaplah menjadi anjing kencing di kepala majikan. Jadi sekarang kita tinggal berpikir, apakah SBY benar-benar menjadi Angel of Communication Political Skill  sehingga banyak media luar negeri yang memberi penghargaan sedangkan media di Indonesia tak ada yang memberi SBY penghargaan, apakah Sri Mulyani benar menjadi “The Best Minister of Finance” se-Asia karena kinerjanya. Dan kisah bunuh dirinya Kurt Cobain karena benci ketenaran adalah sebuah realita atau sandiwara Courtney Love-istrinya. Satu yang harus kita jaga “Jangan mudah termakan media”

Aku Wanita Bukan Susila

Gaunku tak selalu melekat megah sempurna
Usiaku tak melulu berhias mewah cinta sesungguhnya
Namun entah mengapa setapak mega menculik pandangan mata jiwaku
Aku....
Wanita....
Aku....
Nyata untukmu....                 




Kawah-kawah panas terus menggelayuti padasan rumah kami                
Untaian nadi dan tulang lapar menggunung dalam bukit surau kami                
Riakku kutelan sendiri                
Nanahku kubasuh tertepi                
Ikrar sejenak itu telah ternodai dalam keheningan                
Andaikan mata ini tak mampu terang, aku menyesal...



Seketika air tenang jiwa meleleh dalam kelembutan kulit manisku
Aku menyapa cantikku dan gagahku, merekaku, termenung....
Termenung sejenak kemudian menelaah mataku dan membisu
Rasaku menyakiti aku, dia dan engkau kemudian....
Ingin ku kembali pulang dalam gerombolan mawar tak bertuan
Asap kelebat cepat menghujam setiap hembusan kenodaan 
Dan inginku segera mengakhiri semua
Ingin.....

(Terinspirasi dari kisah nyata seorang ibu yang punya dua anak dan ditinggal suaminya entah kemana. Sang Ibu kemudian mencari kerja dan bekerja di diskotek. Kedua anaknya dititipkan di panti asuhan. Ketika Sang Ibu pulang, dia malah dicaci masyarakat sekitar dan ditangkap polisi karena dianggap menelantarkan anak)