Minggu, 22 April 2012
Selasa, 20 Maret 2012
Lepas Tanpa Patah
aku ingin melihatmu…bersanding di pelaminan dengan lelaki yang bukan aku, yang tidak kukenal wajahnya hingga hari itu. Hari dimana kau menjadi bagian dari iman laki-laki itu. Bahagia karena cita dan cinta.
Aku ingin hadir di hari itu, ijab kabulmu, menjadi saksi matamu...walimahanmu. Aku ingin melihatmu…bergandeng tangan dengan suamimu, lelaki yang bukan aku, yang dengan cintanya memboncengmu berdua dalam siluet fajar senja itu.
aku ingin melihatmu…bercanda dengan anak-anakmu, dari suamimu yang bukan aku, meski mereka manis dan lucu-lucu,cukup dengan itu. Aku ingin melihatmu…di masa tuamu, dengan keluargamu dan kebahagiaanmu itu. Aku ingin melihatmu... agar bisa kujaga hatiku untuk isteriku.
aku ingin melihatmu…bercanda dengan anak-anakmu, dari suamimu yang bukan aku, meski mereka manis dan lucu-lucu,cukup dengan itu. Aku ingin melihatmu…di masa tuamu, dengan keluargamu dan kebahagiaanmu itu. Aku ingin melihatmu... agar bisa kujaga hatiku untuk isteriku.
Seuntaian sajak karya PKJ terngiang tepat di benakku. Membawaku mengarungi dunia mantan mimpiku. Tepat di hari ini, dimana angin dirasa akan menghujam benda mati di hadapanku. Aku tak biasa menulis seperti ini, tapi tanganku tak kuasa untuk berhenti. Aku tak biasa sakit seperti ini, tapi jariku gemetar memaksa lari. Aku tak biasa marah sendiri menangisi diri, tapi lenganku menolak tuk sembunyi.
Siang terik, mataku sedikit menitik, dan anganku menggelitik. Kutuliskan dengan penuh kesadaran apa yang lama kuperjuangkan, kemudian kukirimkan padamu berita entah suka entah duka itu. Mataku gelap, meskipun di luar sana mentari gemerlap. Siapa bilang aku bertahan? Siapa bilang aku sekuat karang? Siapa bilang aku tak lekang dalam hutan? Nanti, aku akan seperti yang kau harapkan..Nanti...
Saat ini, detik-detik ini ada serupa air kehancuran menuai kerinduan. Saat ini, langkah lunglai ini ada serasa api kekejaman menguntai kejiwaan. Dan cukup saat ini kumulai mencengkeram lepas semua pikirku tentangmu. Entah apa cukup saat ini, kubawa serangkaian mawar hitam dalam gundukan nisan mantan mimpiku dan mimpimu...
Pernah ku berharap asapmu memenuhi ruangan gelapku, hingga membuatku mampu melihat guratan-guratan. Pernah pula ku tahu, kau berharap airku memenuhi danau rindumu, hingga membuatmu mampu melihat gemerlap. Tapi aku tak pernah berharap meninggalkanmu tanpa patah hati, seperti bidak kecil meninggalkan rajanya. Dan kupun tahu kau tak pernah berharap meninggalkanku tanpa sakit hati, seperti sang panah meninggalkan busurnya. Dan kini akulah gladiator dalam colloseum kehidupan.
Sudahlah..aku lupa tentang membuatmu diam. Sudahlah...aku lupa tentang membuatmu menangis. Sudahlah...aku lupa tentang membuatmu tersenyum. Sudahlah...aku lupa tentang membuatmu terbahak lepas. Sudahlah...aku lupa.....sudahlah...aku....sudahlah....su...dah....lah....
Rabu, 07 Maret 2012
Mer
Gundah mendung lukiskan muram
Usik permainan hati dua anak dewasa tak remaja
Niatkan sucinya ikrar...
Ancangkan cantiknya bersatu jasad...
Wanitaku menangis sendu dalam dekap pasrah
Aku bernyanyi pilu dalam pelukan ego
Nyala harapan perlahan menyurut
Kubutuh api tuk terangi, kubutuh nafas tuk berlari
Untuk separuh hidupmu kurelakan hati terpenggal
Riangkan seluruh wajahmu kurelakan jiwa terjagal
Namun semua terhalang nestapa...
Ijinkanku titipkan rasa yang pernah merekah
Ajarkanku remukkan lukisan rasa dalam kanvas
Senyumku senyummu pahit mengembang di nadi
Anganku pun bersujud
Tanganmu pun bersimpuh
Riakku riakmu kejam tertelan di dada
Ini bukan inginku dan inginmu Mer..
Aku kamu tak bisa tak kuat
Dan ingin kuhentikan semua
Ingin....
Kamis, 01 Desember 2011
Revolusi Tanpa Poligami
Malaise, begitulah istilah lain dari depresi ekonomi yang besar pada tahun 1930-an. Banyak perusahaan yang kolaps dan bangkrut karena saat itu kemampuan beli masyarakat dunia sangat kecil, sementara barang produksi sangat banyak. Tak terkecuali perusahaan Matsushita Electric (cikal bakal Panasonic) milik Konosuke Matshushita. Banyak sekali perusahaan yang kemudian mengurangi jumlah tenaga kerja mereka guna menekan biaya gaji. Tapi Matsushita berbeda, dia tidak mungkin tega memecat karyawannya yang masih punya keluarga dalam kondisi perekonomian seperti itu. Semua karyawan ia anggap sebagai keluarganya sendiri.
Matsushita kemudian berfikir untuk memberdayakan karyawannya yang semula menjadi buruh, diangkat menjadi bagian penjualan. Dia memangkas produksi, meskipun begitu, persediaan barang dagang masih banyak karena lemahnya daya beli masyarakat. Manajer perusahaan meminta Matshushita segera mem-PHK karyawan untuk menekan kerugian ini. Matshushita tak bergeming, akhirnya dia memotong setengah jam kerja, tapi tetap membayar penuh upah karyawannya. Ia juga meminta pekerja untuk membantu menjual jaminan simpanan saham. Akhirnya Matshushita pun berhasil mempertahankan perusahaannya. Kebijakan itulah yang pada akhirnya secara tidak langsung mampu menyelematkannya nyawanya dari penjajahan Sekutu.
Keberhasilan Matshushita tak akan diraih jika dia tidak punya seorang istri dan 3 asisten yang selalu mendampinginya sejak sama-sama membuat perangkat lampu pada tahun 1917. Matshushita hanya lulusan pendidikan menengah dan tak punya pengalaman berbisnis. Sadar akan hal itu, Matshushita butuh usaha keras dan semangat tinggi. Saat itu mereka bekerja berjam-jam dan tak pernah ada libur sebelum menemukan perangkat lampu yang inovatif.
Panasonic tak akan pernah kita tahu jika Matshuhita tak pernah bertemu istri dan tiga asistennya. Begitu juga Steve Jobs tak akan pernah kita kenal jika dia tak bertemu seorang luar biasa seperti Wozniak, yang sama-sama mendirikan perusahaan Apple dari sebuah ruang kerja kecil. Dan Bill Gates tak akan pernah menjadi manusia terkaya di dunia dalam jangka waktu lama bila dia tak pernah kenal Paul Allen.
Kecakapan seseorang dalam membangun revolusi, melaksanakannya dan memimpinnya menuju kemenangan, tak dapat diciptakan dengan otaknya sendiri. Revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup. Begitulah yang disampaikan Tan Malaka dalam bukunya “Aksi Massa” (1926). Kesadaran akan butuhnya kekuatan bersama seperti Tan Malaka juga tercermin dalam kitab suci Kaum Nazi, “Mein Kampf” (1925). Di tulisannya, Adolf Hitler mengungkapkan alasannya memilih menjadi Kepala Divisi Propaganda Partai Buruh di tahun 1921. Hitler yakin bahwa perubahan yang akan dilakukannya hanya dapat dilakukan apabila mempunyai basis massa yang kuat.
Jika kita mempunyai tujuan yang besar dan yakin kita mampu mendapatkannya sendirian, yakinlah bahwa tujuan itu tak akan tercapai maksimal. Tujuan besar dicapai dengan kombinasi yang cantik, dan kombinasi dapat tercapai minimal dengan adanya 2 orang. Jadi, ketika Anda berfikir Anda akan membuat tujuan yang besar dan luar biasa, pastikan Anda punya rekan untuk itu semua. Rekan yang paling tepat dan akan selalu ada bersama Anda, begitu pun Anda akan selalu bersama dia. Ya… Anda boleh memanggilnya “istriku” atau “suamiku”.
Senin, 07 November 2011
2 Jam Lagi
Kurang lebih 2 jam lagi dari terbitnya tulisan ini, Aula DJKN lantai 5 akan menjadi saksi sesenggukan tangis manusia, rintihan pedih hati kegagalan harapan, senyuman pahit jatuhnya asa, ataupun tawa riang di lubuk hati terdalam serasa meraih kemenangan hakiki. Ya, ratusan CPNS DJKN 2010 akan membuka lembaran baru dalam kehidupannya. Hari ini 8 November 2011. Entah kebetulan atau tidak, tepat sekali 11 bulan yang lalu bertanggal 8 Desember 2010, peristiwa itu sudah pernah saya lalui. PENEMPATAN, begitulah kami menyebut tragedi itu.
Sebelum hari bersejarah bagi 55 orang CPNS DJKN 2009 itu, saya mencoba memberikan bahan-bahan pertimbangan pada decision maker tempat kami berlabuh. 2 kali polling permintaan ataupun keinginan kami, dialog face to face dengan salah satu yang berpengaruh terhadap keputusan akhir, memberikan database yang tepat dan akurat, sampai alasan-alasan yang normal maupun abnormal sudah diungkapkan ke bagian yang mengurus nasib kami. IP, asal kota, spesialisasi, hasil kinerja saat magang, usia, jenis kelamin, dan masih banyak lagi lainnya sudah tertulis lengkap di CV maupun database kami pun menjadi sogokan pertimbangan. Saya terus berharap bahwa permintaan adalah awal pertimbangan dan selanjutnya diversuskan dengan kinerja dan kemudian yang lain. Yang pada akhirnya saya sadar, semua itu bisa tak berguna hanya dengan 1 kata pemegang hak veto, “Ganti”.
Tentu saja di sini saya tidak akan mempermasalahkan bagaimana seorang yang berasal dari Medan ditempatkan di Jayapura, ataupun menyoalkan bagaimana seorang ber-IP cumlaude nan berwajah ganteng (siapa tahu ini jadi pertimbangan penempatan...hehe) yang berkinerja baik saat magang dan tak pernah tersentuh pelanggaran disiplin kecil sekalipun bisa ditempatkan di tempat yang jauh dari keinginannya. Saya juga tidak akan mempertanyakan bagaimana orang yang meminta tempat yang tak diinginkan 90% orang, malah ditempatkan di tempat yang diinginkan 90% orang. Saya juga akan melupakan bagaimana seorang yang ber-IP kecil ditempatkan di tempat dia tak pernah magang dan diinginkan banyak orang. Dan saya pun tak akan mengirikan seorang yang jelas-jelas tertulis ditempatkan di sebuah kota, tapi sampai detik ini tak pernah berada di kota itu. Tapi saya bukan pelupa . Saya masih ingat janji, terutama janji mengenai kata “PERBAIKAN”.
Kalau mungkin nanti Menteri, Dirjen, Direktur, atau pejabat kepegawaian mengatakan, “Kami akan melakukan perbaikan sistim kepegawaian”, “Di mana saja itu sama, tergantung kita”, “Di daerah, kalian akan lebih banyak belajar soal-soal teknis”, “Ini bukanlah akhir segalanya, tapi hanya merupakan awal”, saya pasti akan tertawa sekencang-kencangnya sampai pingsan saking mualnya. Seandainya itu tidak melanggar norma kesopanan, seandainya itu tidak melanggar etika profesi, dan seandainya orang tua saya memperbolehkan saya tidak menghargai orang lain, seandainya agama saya mengijinkan untuk saya menghina seseorang dengan cara yang buruk, saya akan melakukannya.
“Hope for the best, prepare for the worst” dan “dimanapun kita ditempatkan, anggaplah kita akan berada di situ selama-lamanya” akan sering kita dengar menjelang saat-saat seperti itu. Kita bekerja di lingkungan yang seharusnya membuat semua pegawai merasa nyaman dan puas. Ketidakpuasan akan membawa pada ketidaklurusan. Karena yang membayar literan keringat kita adalah bergalon-galon keringat rakyat yang mau menyerahkan sebagian kecil hasil kerja kerasnya (atau mungkin sebagian besar.hehe). Kalau CPNS DJKN 2010 berharap semua harapan sesuai kenyataan, tolong lupakanlah mimpi itu,bangunlah pagi, dan lihatlah sinar matahari. Malam memang terasa gelap, tapi ingatlah, esok matahari akan bersinar kembali. Karena tempat Anda menggantungkan mimpi tak pernah peduli arti mimpi Anda.
Akhirnya saya sepertinya harus sok bijak dan sok berpesan kepada para galauers ini. Kalau Anda berfikir saat ini keadilan masih berlaku dalam penempatan, lebih baik “bunuh”lah saya sekarang juga. Kalau Anda kemudian menyerah pada langkah pertama Anda, lebih baik mundur dari sekarang. Kalau Anda berhasil ditempatkan sesuai keinginan Anda, yakinlah bahwa tak semua yang Anda rasakan sekarang akan Anda rasakan seterusnya. Kalau Anda tak puas dengan hasil yang ada di atas kertas, berusahalah untuk menjadi montir kerajaan, karena Anda sedang berada dalam kerajaan tanpa montir. Yang terakhir, kalau ada yang ke Papua dan boleh untuk ditukar dengan tempat saya sekarang berdiri, saya siap setiap saat!!
Kamis, 03 November 2011
The Journey of Love
The Way of Love
Tendangan Berarah Langit
Little Ampera
Amperapung
Perahu Keras
From Watervang with Love
Minggu, 30 Oktober 2011
Will You Marry Me?
Gerimis...maukah kau berhenti bergemericik tuk bantuku?
Ulirkan tetesan kerinduan di hatinya yang terdalam
Nafikan kesedihan di matanya yang bermuram
Agar seluruh batinku sejenak diam...kemudian lirih berujar
Will You Marry Me?
And take into your heart
Now and forever...
Kupu-kupu...maukah kau berhenti menari tuk usirku?
Usirku dari rasa ragu bahwa dialah rusukku
Rusuk yang buatku tegar tak terkapar
Namun kuingin kau menari lagi, kupu-kupuku...
Isyaratkan tarian harapan tuk membawanya ke jantungku
Alirkan racun bahagia tuk luluhkannya ke asmaraku
Sang Penakluk amarahku...
Asaku terjaga sedalam keyakinan ikrar jiwa
Takkan kubiarkan pundakku terbuai selain lembutmu
Ruang fikirku slalu bermandikan nafas kasihmu
Ingin kuteriakkan..
Aku memang bukan lelaki termegah...tapi kupunya warna
Dan akupun bukan manusia terindah...tapi kupunya asa
Istriku...hanya itu yang ingin kupanggil mengganti namamu
inspired by Inesz
inspired by Inesz
Langganan:
Postingan (Atom)










